Welcome, Guest
You have to register before you can post on our site.

Username
  

Password
  





Search Forums

(Advanced Search)

Forum Statistics
» Members: 1,881
» Latest member: agen333
» Forum threads: 695
» Forum posts: 4,254

Full Statistics

Online Users
There are currently 27 online users.
» 0 Member(s) | 27 Guest(s)

Latest Threads
12onlinegaming | Situs Ta...
Forum: Pertanyaan, Saran Dan Kritik
Last Post: linawijaya
7 hours ago
» Replies: 48
» Views: 876
12onlinegaming - Situs Re...
Forum: Joke Forum
Last Post: linawijaya
Yesterday, 07:34
» Replies: 37
» Views: 593
12onlinegaming - Bandar d...
Forum: Pertanyaan, Saran Dan Kritik
Last Post: linawijaya
Tuesday, 19 February 2019, 07:14
» Replies: 48
» Views: 849
AGEN333.NET - Agen Bola R...
Forum: Pertanyaan, Saran Dan Kritik
Last Post: agen333
Thursday, 14 February 2019, 09:41
» Replies: 0
» Views: 12
AGEN333.NET - Agen Bola R...
Forum: Promosi
Last Post: agen333
Monday, 11 February 2019, 14:32
» Replies: 0
» Views: 10
AGEN333.NET - Agen Bola R...
Forum: Joke Forum
Last Post: agen333
Monday, 11 February 2019, 14:30
» Replies: 0
» Views: 12
12onlinegaming - Situs Ju...
Forum: Promosi
Last Post: linawijaya
Saturday, 02 February 2019, 09:58
» Replies: 4
» Views: 127
kursus kecantikan di jaka...
Forum: Promosi
Last Post: kevhill
Thursday, 10 January 2019, 11:01
» Replies: 3
» Views: 1,565
MediPlus Batam mencari do...
Forum: PPDS & Spesialis
Last Post: mediplusbatam
Saturday, 29 September 2018, 14:10
» Replies: 0
» Views: 170
Kualitas Dokter Umum di I...
Forum: Dokter Umum
Last Post: JamesWiguna
Wednesday, 15 August 2018, 14:46
» Replies: 1
» Views: 836

 
  Belum Ada Dokter Asing yang Diberi Izin Praktek
Posted by: Jangle - Monday, 29 March 2010, 22:09 - Forum: Bincang - No Replies

[justify]Jakarta - Hingga saat ini Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) belum pernah memberikan izin praktek berupa surat tanda registrasi kepada dokter/dokter gigi asing untuk berpraktik di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Menaldi Rasmin, Ketua KKI dalam diskusi mengenai dokter asing yang diadakan oleh Perhimpunan Dokter spesialis Penyakit Dalam di Jakarta (5/3).  "Izin yang telah diberikan KKI kepada dokter asing hanyalah kepada dokter yang akan memberikan alih teknologi bekerjasama dengan institusi pendidikan dan atau pelayanan kesehatan di Indonesia," paparnya.

Untuk bisa berpraktek (menerima pasien langsung), dokter asing harus memenuhi berbagai persyaratan yang berlaku sesuai Undang-undang.  Antara lain mempunyai surat izin kerja, memiliki surat tanda registrasi (STR) yang diberikan berdasarkan rekomendasi dari organisasi profesi di negara asal.

"Dokter yang bersangkutan juga harus mahir berbahasa Indonesia. Tidak boleh dokter berpraktik dengan didampingi penerjemah," papar Menaldi.

Menanggapi masuknya dokter-dokter asing di Indonesia, dr.Slamet Budiarto, SH, Sekjen PB IDI mengatakan hal tersebut merupakan dampak dari globalisasi. Dokter asing tidak dapat lagi ditolak kehadirannya, selama mereka memenuhi persyaratan untuk berpraktik di Indonesia.

"Banyak orang asing yang suka bekerja di Indonesia karena kita tidak punya sistem pembiayaan kesehatan dan sistem rujukan yang baik. Padahal, dua hal ini yang akan memproteksi kita dari masuknya dokter-dokter asing," papar Slamet.[/justify]

Sumber :

Hidden Content:
You must reply to see links

Print this item

  Parasit Malaria Makin Kebal Obat
Posted by: Jangle - Monday, 29 March 2010, 22:06 - Forum: Bincang - No Replies

[justify]Artimisinin selama ini dikenal sebagai obat yang sangat efektif mengatasi malaria, terutama di daerah yang telah terjadi resistensi pada jenis obat malaria konvensional. Namun, riset terbaru menunjukkan, parasit malaria pun kini kebal pada obat tersebut.

Para pakar penyakit malaria, dalam pertemuan di Phnom Phen, Kamboja, baru-baru ini menyatakan, sejumlah pasien malaria di daerah perbatasan Kamboja dan Thailand dilaporkan tidak menunjukkan respons pada terapi obat Artimisinin.

Dr Sylvia Meek, Direktur Teknikal Malaria Consortium, mengatakan, resistensi obat tersebut terjadi karena meningkatnya pergerakan populasi manusia. ?Makin banyak orang yang mengunjungi negara lain, misalnya saja turis dari Nigeria ke Asia. Tren ini terus meningkat setiap tahun,? katanya.

Dia menambahkan, mungkin hanya beberapa pelancong internasional saja yang resisten terhadap parasit malaria. ?Namun, sekali mereka menularkan kepada orang lain, penularannya berlangsung cepat,? katanya.

Malaria merupakan salah satu dari penyakit yang diharapkan bisa ditanggulangi pada abad ini selain juga penanggulangan HIV/AIDS dan tuberkulosis. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, tak kurang dari 300-500 juta penduduk dunia terinfeksi parasit malaria dan setidaknya satu juta orang meninggal tiap tahun akibat penyakit yang masih endemik di banyak negara tropis dan subtropis, termasuk Indonesia.[/justify]

Sumber :

Hidden Content:
You must reply to see links

Print this item

  Aspartam Si Manis yang Menuai Kontroversi
Posted by: Jangle - Monday, 29 March 2010, 21:40 - Forum: Bincang - No Replies

[justify]JAKATA ? Pernahkah Anda mendengar kata aspartam? Mungkin masih agak asing di telinga, tetapi tahukah bahwa asparatam adalah salah satu dari pemanis buatan yang telah dipakai secara luas, selain jenis pemanis kimia lain seperti sakarin dan siklamat.

Aspartam memiliki rasa yang lebih manis 180-200 kali dari gula yang biasa.Tak heran apabila pemanis ini banyak sekali dipakai dalam berbagai macam produk, baik makanan maupun minuman.

Aspartam juga kerap disebut sebagai pemanis buatan yang lebih keras daripada biang gula. Padahal, persepsi tentang biang gula itu sendiri masih banyak yang keliru karena kata biang gula belum mendapat kesepakatan, apakah kandungan di dalamnya dan apa yang dimaksud dengan biang gula itu sendiri.

Tak jarang orang banyak yang mengasumsikan pengertian biang gula berbeda-beda. Ada yang menyebut biang gula bukan pemanis buatan dan terdiri dari gula yang belum diproses. Padahal, aspartam yang merupakan pemanis buatan pun sering kali disebut di berbagai artikel sebagai biang gula. Dan, ini berlaku untuk pemanis buatan lainnya, seperti siklamat dan sakarin.

Bahkan, ada juga yang berpikir bahwa gula batulah yang disebut sebagai biang gula. Jadi, apakah akhirnya biang gula itu adalah gula itu sendiri ataukah gula batu ataukah merujuk pada si pemanis buatan? Sampai saat ini belum ada suatu kesepakatan mengenai apa yang disebut dengan biang gula, padahal kata ini umum digunakan di masyarakat.[/justify]

Serba-serbi aspartam
[justify]Aspartam merupakan produk bubuk kristal yang tidak berbau dan berwarna putih serta kestabilannya sangatlah bergantung pada waktu, temperatur, pH, dan aktivitas air. Aspartam sangat stabil apabila dalam keadaan kering, tetapi pada temperatur 30 hingga 80 derajat celsius (dipanaskan, disterilisasi,dan lain-lain) maka aspartam akan kehilangan rasa manisnya. Oleh karena itu, pada makanan yang hanya sedikit atau cukup mengandung airlah maka rasa manis aspartam akan tetap bertahan, aspartam sendiri sangat baik untuk produk yang disimpan dalam pendingin atau dalam keadaan beku.

Berdasarkan penelitian, aspartam sebenarnya mengandung dua komponen natural yang sering terdapat di makanan pada umumnya, yaitu asam aspartik dan fenilalanin. Dua komponen ini sering terdapat pada produk alami yang beredar di masyarakat. Dalam makanan yang mengandung protein, contohnya daging, gandum, dan produk yang berasal dari susu. Selain itu, komponen ini juga sering terdapat pada beberapa jenis buah dan sayuran.

Aspartam ditemukan pada 1965 oleh seorang ahli kimia dan disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) pada 1974. Akan tetapi, izin pemasaran aspartam dicabut beberapa bulan kemudian karena adanya sebuah pengaduan bahwa bahan ini berbahaya dan merupakan bahan karsinogenik penyebab kanker sehingga perlu dievaluasi lebih lanjut. Oleh karena itu, dilakukanlah penelitian lebih lanjut mengenai aspartam sehingga tercapailah sebuah hasil yang memuaskan pihak FDA.

Pada 1981, FDA menyatakan aspartam tidak berbahaya apabila dikonsumsi secukupnya serta diberikan dengan batas pengonsumsian sehari-hari untuk penggunaan pada bahan makanan padat. Lalu, perizinan penggunaan aspartam sebagai tambahan dalam minuman soft drink menyusul pada 1983 dan akhirnya pada 1996 dinyatakan sebagai bahan pengganti pemanis buatan yang dapat digunakan secara umum.

Keamanan penggunaan aspartam telah diteliti dan diakui oleh banyak organisasi nasional dan internasional, termasuk FAO/WHO Commitee of Experts on Food Additives (JEFCA) dan disetujui oleh badan parlemen Eropa untuk digunakan sebagai pemanis buatan di bahan makanan pada 30 Juni 1994.

Bahkan, di Perancis telah disetujui sejak 1988. Nilai ambang batas/acceptable daily intake (ADI) yang telah disetujui oleh JEFCA adalah 40 mg/kgBB/hari yang apabila dikonversikan sebanyak 18-19 kaleng diet cola pada individu yang mempunyai berat badan 68 kg karena produk diet cola mengandung aspartam yang sangat sedikit.

Berdasarkan percobaan oleh Karim dkk dan Stegink dkk pada 1996, metabolisme aspartam terjadi pada saluran pencernaan menjadi komponen metanol sebanyak lebih kurang 10 persen, 40 persen asam aspartik dan 50 persen fenilalanin. Sedangkan pada penelitian Creppy dkk pada 1998 menyatakan, hanya sebagian kecil saja aspartam yang mungkin diserap tanpa dimetabolisasi. Akan tetapi, hal ini masih perlu dikonfirmasikan.[/justify]

Kontroversi aspartam
[justify]Meski penggunaannya telah mendunia dan telah disetujui oleh WHO, bukan berarti aspartam langsung bisa diterima oleh masyarakat. Banyak kontroversi muncul dikarenakan adanya penelitian mengenai produk aspartam dengan beragam hasil yang berbeda.

Pada 1996, sebuah artikel yang dikemukakan oleh JW Olney menyatakan adanya kemungkinan bahwa aspartam menyebabkan peningkatan insiden dari tumor otak sehingga menimbulkan perdebatan di berbagai media.

Pada tahun yang sama, badan-badan kesehatan di berbagai belahan dunia telah memberikan reaksi dengan menyatakan pada publik bahwa berbagai macam penelitian telah dilakukan. Sejumlah penelitian lain masih berlangsung untuk mendapatkan bukti sains yang mendukung.

Sementara itu, bukti dari penelitian yang dilakukan oleh FDA FR (1981-1984), Koestner dan Cornell dkk pada 1984 serta yang dilakukan Flamm (1997) membantah pernyataan tersebut dengan menyatakan bahwa tidak ada potensi karsinogenik yang menyebabkan kanker pada pemakaian aspartam di tikus percobaan.

Perdebatan mengenai hasil penelitian Olney juga dikemukakan oleh para peneliti lain, termasuk Levy dkk pada tahun 1996 yang menyatakan bahwa jika pengumpulan data mengenai insiden tumor otak dan pemakaian aspartam dikumpulkan dari 1973 hingga 1992, hasil penelitian Olney tidak relevan, karena Levy mendapatkan hasil bahwa insiden tumor otak meningkat bukan karena mengkonsumsi aspartam.

Pendapat serupa dinyatakan oleh penelitian Lim dkk yang mengikuti perjalanan 285.079 pria dan 1888.905 wanita pengonsumsi aspartam, baik di dalam minuman mereka saat dingin maupun panas sejak 1995 hingga 2000, hasil penelitian ini mendapati bahwa tidak ada kaitannya dengan risiko kanker otak dan kelainan pembentukan darah. Studi ini dipublikasikan di jurnal Cancer epidemiology Biomarkers and Prevention pada 2006.

Salah satu penelitian terbaru pada 2008 yang membantah bahwa aspartam menyebabkan kanker adalah penelitian dari Magnuson dan Williams yang disponsori oleh Burdock Group. Ini adalah sebuah badan peneliti independen yang di-support secara finansial oleh perusahaan Ajinomoto, salah satu produsen Aspartam. Bahkan pada 2009, salah satu penelitian yang disokong oleh Italian Association for Cancer Research dan The Italian League Against Cancer menyatakan bahwa tidak terbukti bahwa aspartam menyebabkan kanker lambung, pankreas, dan lapisan rahim (endometrium).

Memang, penggunaan aspartam yang masih menjadi kontroversi  tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi terjadi juga di Amerika dan sejumlah negara lainnya. Akan tetapi, sejauh ini FDA dan beberapa organisasi kesehatan lainnya masih menyatakan aman untuk dikonsumsi berdasarkan banyaknya penelitian yang dilakukan di berbagai belahan dunia dari masa ke masa.

Untuk itu, pertanyaan apakah aspartam memang aman untuk dikonsumsi? Kita kembalikan lagi kepada individu masing-masing untuk menjawabnya. Karena meski badan kesehatan dunia sudah menyatakan aman, apabila seorang individu merasa tidak nyaman untuk mengonsumsi, maka keputusan terakhir berada di tangan sang pengonsumsi.
[/justify]

Penulis : dr Intan Airlina Febiliawanti
Sumber :

Hidden Content:
You must reply to see links

Print this item

  Dokter "Berbisnis" Obat Generik Tak Dilirik
Posted by: Jangle - Monday, 29 March 2010, 21:36 - Forum: Bincang - No Replies

[justify]MEDAN - Penggunaan obat generik dinilai belum menjadi "primadona" bagi para dokter, baik yang bekerja di sarana pelayanan pemerintah maupun swasta karena masih banyak di antara mereka yang hanya memberikan resep obat paten kepada pasien.

Pengamat kesehatan dari Universitas Sumatera Utara (USU), Destanul Aulia, Senin di Medan, mengatakan, masih minimnya dokter yang memberikan resep obat generik kepada pasien patut disesali, padahal kualitas obat generik tidak kalah dibanding obat paten.

Menurutnya, kondisi ini harus mendapat perhatian serius dari semua pihak, terutama dinas kesehatan dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) selaku organisasi profesi yang menaungi para dokter. Padahal, Kemenkes juga telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah.

Ia menilai, ada beberapa hal yang menyebabkan dokter enggan memberikan resep obat generik kepada pasien. Pertama, terkait hubungan bisnis antara dokter dan perusahaan farmasi.

"Mungkin perusahaan farmasi memberikan insentif kepada dokter yang meresepkan obat paten produk mereka. Hubungan timbal-balik antara dokter dan perusahaan farmasi ini pula yang membuat mengapa obat generik tidak akan pernah menjadi ?primadona?," katanya.

Ada juga dokter yang memang "nakal" dengan mengatakan bahwa stok obat generik telah habis, padahal masih tersedia cukup banyak.

"Ya itu tadi penyebabnya. Semakin banyak dokter yang meresepkan obat paten kepada pasien, dia juga akan mendapat insentif lebih banyak dari perusahaan farmasi," terangnya.

Menurutnya, ada beberapa langkah yang bisa diterapkan oleh pemerintah agar obat generik tidak lagi menjadi obat nomor dua. Misalnya dengan membatasi peredaran obat paten di pasaran dan lebih memperbanyak peredaran obat generik.

"Namun yang paling penting bagaimana agar pemerintah lebih gencar mempromosikan penggunaan obat generik kepada masyarakat. Masyarakat juga harus lebih berani meminta resep obat generik kepada dokter," ujarnya.[/justify]

Sumber :

Hidden Content:
You must reply to see links

Print this item

  Hi! Salam Kenal ^^
Posted by: aninsiwi - Monday, 29 March 2010, 17:49 - Forum: Selamat Datang - Replies (1)

assalam..
salam kenal.. ^^

saia anin,angktn 2007 d Unej..
mohon bantuannya.. ^^

Print this item

  salam...salam kenal ya
Posted by: rocjk - Friday, 26 March 2010, 13:15 - Forum: Selamat Datang - No Replies

hii..
salam kenal bwt semuanya..
..
mohon bimbingannya. thx

Print this item

  jadwal ATLS 2010
Posted by: riki - Thursday, 25 March 2010, 14:59 - Forum: Informasi - No Replies

mohon bantuannya u/ info jadwal ATLS 2010.. tq

Print this item

  Pemerintah Anak Tirikan Dokter Umum
Posted by: Jangle - Monday, 22 March 2010, 20:03 - Forum: Dokter Umum - Replies (2)

[justify]JAKARTA--MI: Buah dari kebijakan kesehatan yang lebih mengedepankan unsur kuratif (pengobatan), menjadikan peran dokter umum yang sejatinya potensial dalam pembangunan kesehatan lambat laun menjadi semakin terpinggirkan.

Demikian pandangan itu disuarakan Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) yang secara tegas mengkritisi system kebijakan kesehatan yang dianut oleh pemerintah pada dewasa ini.

Ketua Pengurus Harian PDUI Mawari Edy berkomentar, lantaran lebih mengendepankan tindak kuratif dan bukan preventif sistem rujukan medis di Indonesia tidak berjalan. Bila mengindap penyakit, masyarakat memilih berobat ke rumah sakit tidak ke Puskesmas terlebih dahulu.

Pada masyarakat kalangan atas, bila dirinya atau kerabatnya jatuh sakit, umumnya mereka memilih berobat ke dokter spesialis. Sedangkan masyarakat kelas bawah, cenderung berobat pada tenaga penyembuh bukan dokter.

"Potensi dokter umum yang jumlahnya hamper 33 kali lipat disbanding dokter spesialis menjadi kian terabaikan," sesal Edy dalam konferensi pers Indonesian General Practicioner`s Exhibition and Converence, di Jakarta, Jumat (12/3).

Bila pemerintah terus membiarkan fenomena seperti ini, alhasil kemampuan dan kompetensi dokter umum Indonesia bakal semakin terus tertinggal. Padahal, dengan total mencapai 50 ribu dokter, potensi dokter umum untuk membangun bidang kesehatan di Indonesia cukup besar.

Dokter umum sejatinya unggul dalam aspek preventif dan promotif kesehatan. "Dokter umum dapat berperan besar dalam deteksi dini dan terapi awal," ujar Edy.

Dalam kasus demam berdarah dengue (DBD) misalnya, menurut Dia, kasus yang selalu berulang setiap tahun dan kerap memakan korban jiwa seharusnya dapat ditanggulangi dnegan baik jika pemerintah memaksimalkan layanan kesehatan primer seperti dokter umum dan Puskesmas.

Pendapat Edy juga diamini Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Priyo Sidipratmo. Dia mencontohkan, masih tingginya angka kematian ibu (AKI) di negara ini lantaran faktor tidak maksimalnha penggunaan tenaga dokter umum. Sebagian besar kematian ibu (70%) justru terjadi akibat perdarahan di rumah sakit. Sebagian besar dari mereka telat dirujuk.

Artinya, deteksi dini (early detection) tidak berjalan. Padahal masalah deteksi dini ini bisa diambil alih oleh dokter layanan primer yaitu dokter umum. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 (SDKI) mencatat, tingkat AKI di Indonesia mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup.

Tingginya kematian ibu menurut Priyo, sedikit banyak disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang lebih mengutamakan penanganan pada dokter spesialis kebidanan dan bidan. "Dokter umum kurang bisa membantu lantaran terganjal kompetensi".

Presidium Kongres I PDUI Dyah A Waluyo berpendapat, seyogyanya pemerintah mengubah konsep layanan kesehatan dari mengedepankan unsur kuratif menjadi unsure pencegahan dan promosi. Di samping itu faktor rujukan dan sistem asuransi yang kuat seharusnya sudah bisa dijalankan pemerintah.[/justify]

Sumber :

Hidden Content:
You must reply to see links

Print this item

  Kualitas Dokter Umum di Indonesia Rendah
Posted by: Jangle - Monday, 22 March 2010, 19:59 - Forum: Dokter Umum - Replies (1)

[justify]JAKARTA--Ikatan dokter Indonesia (IDI) menyesalkan rendahnya kualitas dokter umum di Indonesia. Salah satu perkumpulan yang dibawahi IDI, Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI), menyebut selama ini peningkatan kopetensi dokter di Indonesia kurang digalakkan.

Rendahnya kualitas dokter umum tersebut, dapat dilihat dari maraknya penyakit yang berkembang di masyarakat, demikian menurut salah seorang Presidium PDUI, dr Dyah Agustina Waluyo, Jumat (12/3). "Seharusnya dokter umum harus dapat melakukan diagnosis dini," terangnya. Dengan diagnosis dini tersebut, peran dokter dalam tindakan promotif dan preventif dapat dilaksanakan.

Menurut pandangan Dyah , saat ini paradigma yang berkembang di masyarakat menyebutkan dokter umum adalah dokter kelas dua. Sedangkan, dokter spesialis mepunyai kelas tersendiri. Hal itu diperparah dengan tidak adanya pihak yang mengukur kemampuan dokter.

Saat ini memang sudah terdapat standar profesi kedokteran yang berlaku. Meski, Dyah menilai, standar profesi sekarang belum cukup memberikan pelayanan kesehatan di masyarakat.

"Perlu adanya standarisasi praktek kedokteran," ujarnya. Untuk itu, PDUI akan mengusulkan adanya standarisasi praktek kedokteran itu. "Kita harapkan dalam waktu satu hingga satu setengah tahun, (standarisasi praktek-red) tercapai," jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan standarisasi praktek pun berkenaan dengan tempat praktek dokter. Saat ini, menurut Dyah masih banyak bertebaran tempat praktek yang tidak layak secara kedokteran. "Masa mau buka praktek hanya dengan stetoskop saja," ujarnya.[/justify]

Sumber

Hidden Content:
You must reply to see links

Print this item

  Jangan Remehkan Peran Dokter Umum!!!
Posted by: Jangle - Monday, 22 March 2010, 19:49 - Forum: Dokter Umum - No Replies

[justify]Jakarta, SMborneo.com - Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) berupaya mengembalikan kewenangan dokter umum sebagai garda terdepan dalam bidang kesehatan agar masyarakat mendapatkan keadilan, menyusul terjadinya pelayanan tidak terstruktur.

"Dokter umum berperan dalam setiap tahapan pelayanan kesehatan yang terdiri dari promotif, preventif, dan rehabilitasi," kata Ketua Harian Presidium Nasional PDUI Dr. Mawari Edy pada konferensi pers di sela acara pembukaan Mukernas PDUI, pameran dan temu ilmiah yang bertema The First Indonesia General Practicioner's (iGPexpo) di Jakarta (12/3).

Untuk deteksi dini dan terapi awal cukup dilakukan dengan peran dokter umum. Seperti kasus DBD (demam berdarah dengue) yang selalu memakan korban jiwa ini, mestinya bisa ditanggulangi dengan baik bila dokter umum lebih dilibatkan untuk mengedukasi masyarakat agar hidup bersih dan peduli terhadap lingkungan.

Sementara itu Dr. Dyah A.Waluyo anggota Presidium Nasional PDUI menambahkan, bukannya dokter umum tidak mau terlibat, seperti penanganan KB dan pemberian vaksinasi itu juga sebenarnya kompetensi dokter umum. ?Namun dokter umum tidak terlalu banyak dilibatkan,? ujarnya.

Dr. Edy menghimbau masyarakat sebaiknya berobat ke dokter umum terlebih dulu, tidak perlu langsung ke dokter spesialis, bila misalnya sakit di ulu hati, antara dokter umum dan dokter spesialis memiliki penanganan prosedur yang berbeda.

Dalam kasus ini, perlu skrining secara umum oleh dokter umum. Sakit ulu hati bisa karena mag, dan bisa penyakit jantung. Sehingga dengan demikian terjadi efisiensi dan biaya murah.

Jika dideteksi dini, masalah kesehatan dalam masyarakat akan jauh berkurang. Masalahnya, dokter umum kurang didukung perlatan yang memadai di tempat mereka bekerja atau praktek.

Pemahaman dokter umum hanya bekerja dengan stetoscope dan tensi meter, tampaknya sudah harus diubah. ?Untuk melakukan diagnosa yang baik dan akurat, dokter umum sebaiknya memiliki peralatan yang memadai,? kata Dr. Edy juga salah seorang anggota Presidium Nasional PDUI.

Tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang lebih baik lagi saat ini. Sebagai petugas kesehatan di garda terdepan, dokter umum dituntut untuk terus mengikuti perkembangan ilmu kedokteran.

Fungsi utama PDUI menjaga dan memelihara kompetensi anggota. Sehingga adanya PDUI akan membuat dokter umum lebih percaya diri, professional dalam bertugas dan membantu masyarakat luas yang membutuhkan pelayanan kesehtan.

Saat ini ada 55.000 dokter umum di Indonesia dengan potensi yang luar biasa, yang tersebar di bebagai peolosok kota dan bahkan sampai ke pelosok di ujung terpencil. Tetapi honornya baru dibayar 3 bulan kemudian bahkan lebih. ?Ini tugas PDUI berusaha meningkatkan harkat, martabat, dan kehormatan dokter umum, termasuk membina dan memperjuangkan kepentingan serta meningkatkan mutu profesi dokter umum,? terang Dr. Dyah.

Munas, pameran dan pertemuan ilmiah organisasi profesi PDUI itu bertema The First Indonesia General Practicioner's. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 12-14 Maret 2010 itu diresmikan oleh Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih.

Dokter umum, menurut Menkes, sangat berperan dalam pelayanan primer guna mewujudkan masyarakat sehat dan mandiri.

Munas PDUI tersebut secara umum akan membahas tentang bagaimana mengembalikan kewenangan dokter umum dan memperkuat kompetensi dokter umum. Selain itu juga mendorong pelayanan terstruktur, rujukan, dan sistem pembiayaan yang jelas. "Kami mau struktur pelayanan terstruktur untuk keadilan," kata Abraham Andi Padhan Patarai salah seorang Presidium Nasional PDUI.

Bagi masyarakat ekonomi menengah atas, ujar Abraham, cenderung memilih dokter spesialis dengan alasan bisa memberikan pelayanan yang lebih baik, sedangkan masyarakat menengah bawah memilih berobat ke tenaga kesehatan lain yang lebih murah.

?Seyogyanya pemerintah mengubah konsep layanan kesehatan dari mengedepankan unsur kuratif menjadi unsur pencegahan dan promosi. Di samping itu faktor rujukan dan sistem asuransi yang kuat seharusnya sudah bisa dijalankan pemerintah,? tambah Dr. Dyah.[/justify]

Print this item